TVRINews - Pandeglang, Banten
Rumah Lapuk dan Bayang-Bayang Runtuh di Ujung Usia Senja.
Di tengah hamparan pedesaan Kabupaten Pandeglang, Banten, masa tua seharusnya menjadi fase kehidupan yang dilalui dengan rasa aman. Namun, kenyataan pahit justru harus dihadapi oleh Sanami.
Di usianya yang telah menginjak 69 tahun, ia terpaksa menghabiskan hari-harinya seorang diri di dalam bangunan yang hampir kehilangan kelayakannya sebagai tempat tinggal.
Rumah berukuran 6 kali 12 meter di Kampung Baitul Mu’min, Desa Cimoyan, Kecamatan Patia, itu kini berdiri dengan struktur yang kian rapuh. Sebagian besar kerangka atapnya telah ambruk akibat dimakan usia dan cuaca.
Bagi Sanami, hunian tersebut tidak lagi memberikan ketenangan, melainkan kecemasan yang konstan. Setiap kali langit mendung dan hujan turun, rasa takut akan keselamatan jiwanya seketika mendesak. Ia menuturkan bahwa dirinya terpaksa mencari perlindungan ke rumah tetangga demi menghindari risiko bangunan yang sewaktu-waktu dapat runtuh.
"Emak takut nempatin rumah dengan kondisi yang seperti ini, apalagi jika musim hujan emak memilih nginap di rumah tetangga karena takut jika sewaktu-waktu rumahnya roboh," ungkap Sanami mengisahkan kerentanan yang ia rasakan sehari-hari Kamis 27 Agustus 2026.
Keterbatasan finansial menjadi dinding tebal yang memisahkan Sanami dari rasa aman. Untuk menyambung hidup, ia masih mengandalkan tenaga fisiknya sebagai buruh tani dengan perolehan upah yang jauh dari kata pasti.

Sementara itu, satu-satunya anak yang ia miliki tinggal jauh di wilayah lain, sehingga intensitas kunjungan dan dukungan secara langsung menjadi sangat terbatas.
Upaya keluar dari situasi pelik ini sejatinya telah diupayakan. Sanami menyebutkan bahwa permohonan bantuan renovasi telah berulang kali disampaikan melalui perangkat lingkungan setempat, mulai tingkat RT, RW, hingga kepala dusun. Kendati demikian, realisasi bantuan yang memadai hingga kini belum kunjung terwujud.
Pihak pemerintah desa turut membenarkan kondisi memprihatinkan tersebut. Kepala Dusun Wilayah 1 Desa Cimoyan, Ahmad Hijaji, menjelaskan bahwa persoalan rumah tidak layak huni milik warganya itu telah lama menjadi perhatian publik tingkat lokal, namun terkendala pada penyaluran realisasi bantuan lanjutan.
"Sebenarnya memang Ibu Sanami ini memiliki rumah tidak layak huni sudah lama banget, bukan hanya saya selaku kadus, hampir semua orang sudah tahu. Kami sudah sering sekali mengajukan bantuan baik kepada pemerintah maupun ke swasta, namun sampai saat ini belum ada tembusan lagi," tutur Ahmad menjelaskan.
Menurut catatan aparat desa, Sanami tercatat pernah menerima bantuan satu kali yang bersumber dari alokasi dana desa. Walau demikian, nominal tersebut dinilai sangat minim dan belum mencakup biaya pemulihan struktur bangunan secara menyeluruh.
Kini, di penghujung usia senjanya, harapan Sanami terfokus pada uluran tangan serta kepedulian nyata dari berbagai pihak. Ia mendambakan sebuah tempat berlindung yang kokoh dan aman, tempat di mana ia dapat beristirahat tanpa harus dihantui kecemasan akan keselamatan diri tatkala cuaca buruk melanda.










