TVRINews, Serang
Kekeringan masih melanda sejumlah lahan pertanian di Kabupaten Serang, Banten. Kondisi ini berdampak pada produktivitas tanaman padi yang menjadi salah satu komoditas utama daerah tersebut.
Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Serang mencatat sekitar 1.044 hektare sawah terdampak kekeringan. Dari jumlah tersebut, sekitar 335 hektare mengalami puso atau gagal panen akibat keterbatasan pasokan air.
Kondisi kekeringan turut memengaruhi pencapaian target produksi padi Kabupaten Serang pada 2026. Hingga saat ini, realisasi panen baru mencapai sekitar 80 persen dari target yang ditetapkan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Serang, Suhardjo, mengatakan tanaman padi yang saat ini memasuki masa panen merupakan tanaman yang ditanam pada Juni hingga Juli. Namun, dampak kekeringan terhadap tanaman yang sedang tumbuh diperkirakan baru terlihat pada masa panen sekitar Desember.
“Yang panen sekarang masih tanaman yang ditanam pada Juni-Juli, jadi masih belum aman. Dampaknya kemungkinan baru terlihat saat panen nanti sekitar Desember. Tanaman yang sekarang ditanam masih akan ada penurunan,” ujar Suhardjo, Selasa, 22 September 2026.
Meski demikian, Suhardjo menyebut pencapaian target panen saat ini telah mencapai sekitar 80 persen. Ia berharap produksi padi hingga akhir tahun tetap mampu dipertahankan sehingga Kabupaten Serang tetap mengalami surplus pangan.
“Kami yakin pencapaian target panen sudah 80 persen. Mudah-mudahan sampai akhir tahun kita tetap masih surplus,” katanya.
DKPP Kabupaten Serang menargetkan produksi padi 2026 dapat mencapai sekitar 10 ton dengan memaksimalkan lahan pertanian yang masih produktif.
Panen ketiga yang diperkirakan berlangsung pada Desember diharapkan dapat membantu meningkatkan produksi sekaligus mempertahankan Kabupaten Serang sebagai salah satu daerah penyangga pangan di Banten.










