TVRINews, Serang
Musim kemarau menyebabkan kekeringan dan krisis air bersih semakin meluas di Kecamatan Kasemen, Kota Serang, Provinsi Banten. Lima wilayah yang terdampak, yaitu Kampung Cibomo Kidul, Cibomo Tengah, Cibomo Lor, dan Cibomo Kepasaksan di Kelurahan Bendung, serta Lingkungan Kebasiran di Kelurahan Sawah Luhur.
Untuk mendapatkan air bersih, warga terpaksa mengambil air dari sebuah sumur yang berjarak sekitar satu kilometer dari permukiman. Sumur tersebut juga dimanfaatkan oleh warga dari kampung-kampung lain yang ikut terdampak kekeringan.
Bantuan air bersih terakhir diterima dari PMI pada 26 Juli lalu, tetapi persediaan air di tandon penampungan kini sudah habis, sedangkan warga belum mengetahui kapan bantuan berikutnya akan datang. Sebagian warga terpaksa membeli air bersih dari pedagang keliling dengan harga Rp20.000 untuk sepuluh jeriken.
(Foto: Ketua RT 02/RW 04 Lingkungan Kebasiran, Sadi)
"Sudah mulai masuk satu bulan kekeringan, jadi warga minimal ada 70 KK. Biasanya mencari airnya jauh di sana. Kalau yang di sumur warga sudah tidak layak pakai airnya. Rasanya sudah payau, bahkan warga banyak yang beli. Warga sekarang banyak yang mengeluh karena satu gerobak itu harganya Rp20 ribu, satu gerobak dapat 10 jeriken. Alhamdulillah, ada masuk bantuan air dari PMI sebanyak tiga mobil. Untuk tiap RT diberi bantuan satu mobil," ujar Sadi, Ketua RT 02 RW 04 Lingkungan Kebasiran, Kamis, 30 Juli 2026.
Selain menyebabkan krisis air bersih, musim kemarau juga mengakibatkan sawah-sawah milik warga mengering dan mengalami retak-retak sehingga tidak dapat ditanami padi. Sebagian petani kini beralih menanam tanaman kebun untuk mempertahankan penghasilan.









