TVRINews, Tangerang Selatan
Seekor sapi berbobot lebih dari satu ton milik peternak di Perumahan Puri Marissa Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), terpilih menjadi hewan kurban bantuan Presiden RI Prabowo Subianto pada Hari Raya Iduladha 2026. Sapi bernama “Panjul” itu dipastikan sehat dan laik sebagai hewan kurban setelah menjalani pemeriksaan menyeluruh.
Kepala UPT Pusat Kesehatan Hewan DKPPP Tangsel, Pipit Surya Yuniar mengatakan, pemeriksaan dilakukan mulai dari pengecekan fisik hingga pengujian laboratorium.
“Kita melakukan pemeriksaan sapi bantuan Presiden Bapak Prabowo Subianto di Ternak Maqribie Farm. Jadi kemarin sudah dicek secara fisik, kemudian diambil sampel darah untuk diuji PMK, LSD, hingga bruselosis, dan alhamdulillah semuanya negatif,” jelasnya.
Ia menegaskan, secara administratif maupun kesehatan, sapi tersebut dinyatakan laik sebagai hewan kurban. Rencananya, sapi bantuan Presiden Prabowo Subianto akan dibawa ke rumah potong hewan (RPH) sebelum didistribusikan ke Masjid Darul Hikmah.
Pemilik sapi, Muhammad Zamroni Maqribie mengaku tidak menyangka sapinya dipilih menjadi hewan kurban Presiden. Ia mendapat informasi dari Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKPPP) Tangsel terkait minat Presiden membeli sapi dari peternakannya.
“Awalnya saya dapat info dari dinas, Pak Presiden ingin berkurban, dan alhamdulillah saya memberanikan diri dengan bismillah. Alhamdulillah sapinya diuji dan lolos semuanya,” ungkap Zamroni, Selasa, 19 Mei 2026.
Ia menjelaskan, sapi jenis Pegon Cross bernama “Panjul” berasal dari Kediri Pare, Jawa Timur. Berdasarkan hasil penimbangan pada April lalu, bobot sapi mencapai 1,05 ton dengan harga jual sekitar Rp120 juta.
Untuk menjaga kondisi “Panjul” tetap prima, Zamroni memberikan perawatan khusus karena ukuran tubuh sapi yang besar.
“Kita ada perawatan khusus, treatmentnya ada. Kita lihat kondisinya, kalau misalkan kurang fit kita kasih jamu, terus kalau memang tidak bisa ditangani kita panggil dari dinas. Kebetulan sebulan dua kali dinas datang ke tempat kami,” bebernya.
Selain memeriksa sapi bantuan Presiden, DKPPP Tangsel juga terus mendata hewan kurban yang masuk ke wilayah tersebut. Hingga kini jumlahnya mencapai sekitar 3.000 hingga 4.000 ekor.
Pipit menyebut, belum ditemukan hewan kurban yang tidak laik di Tangsel. Gangguan kesehatan yang ditemukan umumnya akibat proses transportasi, seperti mata merah, kelelahan, dan luka ringan.
“Kalau untuk yang tidak layak sampai saat ini belum kami temukan. Biasanya hanya penyakit akibat transportasi dan masih bisa recovery sampai hari H,” ujarnya.
“Kita bekerja sama dengan kader-kader kelurahan untuk melakukan pendataan dan datanya diperbarui setiap hari,” tutupnya.










