TVRINews, Banten
Sejumlah nelayan di wilayah Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, mengaku sempat melihat speedboat Arupadatu 1 yang membawa lima jurnalis dan tiga kru kapal sebelum akhirnya hilang kontak di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.
Salah seorang nelayan, Toye, yang juga merupakan adik ipar kapten speedboat Arupadatu 1, Warta, mengaku melihat kapal tersebut saat berada di sekitar perairan Legon Cabe, kawasan Gunung Anak Krakatau, pada Senin, 7 September 2026.
Toye mengatakan, saat itu dirinya sedang berada di laut dan melihat sebuah speedboat dari kejauhan. Berdasarkan ciri-ciri kapal yang sudah sangat dikenalnya, ia meyakini speedboat tersebut merupakan Arupadatu 1 yang dikemudikan oleh kakak iparnya.
"Waktu mau berangkat itu bareng sama saya, hari Senin sekitar jam dua kurang, di sekitar Legon Cabe. Saya sedang berlabuh di situ, agak jauhan," ujar Toye, dikutip Minggu, 13 September 2026.
Menurut Toye, speedboat Arupadatu 1 terlihat dari jarak sekitar tiga kilometer. Ia memperkirakan kapal tersebut tengah bergerak menuju arah pulang. Toye juga menyebut kondisi cuaca saat itu kurang bersahabat. Angin bertiup cukup kencang dan arus laut di sekitar perairan Gunung Anak Krakatau juga sangat kuat.
Kesaksian tersebut menjadi salah satu informasi yang membantu proses pencarian terhadap Arupadatu 1. Hingga kini, keberadaan kapal yang membawa lima jurnalis dan tiga kru tersebut masih belum diketahui.
Memasuki hari keenam pencarian, tim gabungan terus melakukan penyisiran dan pelacakan. Sebanyak 15 kapal dan satu helikopter dikerahkan untuk mencari keberadaan para jurnalis dan kru kapal. Tim gabungan masih berupaya menemukan titik keberadaan Arupadatu 1 beserta seluruh penumpang dan kru yang berada di dalamnya.










